Tak seperti biasa, malam ini Salma tidur begitu gelisah. Biasanya sesaat setelah kumatikan lampu kamar, ia akan pulas, nyaris tanpa gerak, tanpa suara. Tapi malam ini kakinya seperti menari-nari, kadang di kiri kadang di kanan, sesekali terjuntai di bibir dipan. Kutata lagi posisinya,tenang sejenak, lalu gelisah kembali.
Entah apa yang sedang dimimpikan bidadari mungilku. Esok memang hari besarnya, hari pertama masuk sekolah. Wajar saja kalau ia gelisah. Bukan hanya Salma yang gelisah, aku pun juga. Ini kali pertamaaku mengantar Salma ke sekolah. Salma tak pernah kumasukkan ke TK. Di samping biaya, juga aku tak merasa terlalu ada manfaatnya. Biarlah rumah menjadi taman bermainnya. Ah, tak pernah benar-benar tahu, apakah aku mampu menjadi ayah sekaligus sahabat yang baik untuk gadis mungil dengan rambut keriting tipis ini.
UNTUK LEBIH MENIKMATI CERITA, KLIK DULU VIDEO BERIKUT
Dunia sekolah tentunya akan membawa hal-hal baru baginya. Rapuh tiap kali menyadari waktu yang melaju, sedang satu sisi hatiku masih tertambat di masa lalu.
Hentakan kaki Salma, melepas selimut yang menutupi tubuhnya. Kaki kirinya kembali menjuntai di bibir dipan. Ruto yang sedari tadi tidur tak jauh dari dipan terkesiap, matanya menatap pasat-pasat ke majikannya, ya Salma. Majikan sekaligus sahabatnya. Ada kalanya aku iri dengan Ruto. Sering kudapati mereka berdua berbicara dalam waktu lama, Salma akan menceritakan banyak hal pada Ruto. Meski Ruto hanya mendengus atau sesekali mengeong, bukan masalah buat Salma. Entah apa yang ada di benak anakku.
Suatu petang, sekitar tiga bulan lalu, saat sedang mengedit tulisan, terkejut aku mendengar Salma berbincang setengah berbisik. Kudekati ia dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Ia peluk Ruto, mukanya dan Ruto hanya berjarak sekitar sepuluh senti saja. Salma menatap erat ke mata Ruto, sedang Ruto matanya tetap liar. Tapi entah mengapa kucing itu tak sedikitpun hendak berlari.
“Ruto, kamu gak pernah rindu sama bunda kamu ya ?”aku sudah bisa menebak arah percakapan Salma.
“Bunda kamu sama dengan bunda Ama ya, sudah di surga sana ?” Salma seperti tak peduli bahwa Ruto matanya lebih pasat menatap ikat rambutnya ketimbang berkonsentrasi mendengar omongan Salma.
“Sebentar lagi aku mau masuk sekolah, Ruto. Coba kalau ada bunda, pasti bunda akan mengantar dan menunggui aku sekolah, iya kan Ruto ?” kucing itu sama sekali tak peduli, kaki Ruto justru sibuk memainkan ikat rambut Salma.
“Aku rindu bunda, Ruto,” tertegun aku mendengar Salma. Kepingan memori yang hilang atas bundanya memang tak akan pernah bisa kulengkapi. Kadang ingin mengumpat dan memaki Tuhan atas apa yang Ia timpakan. Kalau bukan karena binar mata bidadari kecilku itu, sudah lama mungkin aku pergi menyusul Raiya, entah dengan cara apa.
Sejak kejadian petang itu aku berjanji untuk menemani hari-hari awal Salma di sekolah. Akan kutunggui gadis kecilku ini melalui hari-hari beratnya Tak peduli dengan deadlinetulisan atau kejar setoran edit buku. Aku tak ingin mendengar keluh kesah Salma hanya karena aku tak menemaninya di sekolah.
Kubuka lagi catatan kecilku tentang tulisan-tulisan yang harus segera kuselesaikan, lampu baca yang kunyalakan membuat Salma makin tak betah. Kubatalkan niatku membaca. Kurebahkan kepala, kulirik sejenak Salma. Ah, alangkah malangnya nasibmu, nak. Batinku lirih.
Raiya, dimanapun dirimu kini, anak kita sudah besar, sayang. Esok ia akan memulai langkah pertamanya di sekolah. Andai kau ada, sudah pasti matamu akan bersinar cerah memulai pagi esok. Memastikan segala sesuatunya akan baik-baik saja untuk putri kita tercinta. Aku tahu kau meragukanku mengurus Salma. Jangan khawatir sayangku, semua sudah siap. Seragam sekolah sudah seminggu lalu kami beli, sebuah sepatu hitam dengan corak kembang juga telah siap, tas merah dengan gambar burung pemarah yang terkenal itu juga telah dipilih Salma. Aku tak akan mengecewakanmu, Raiya.
Suara musik dari rumah sebelah terdengar merdu di telinga, entah Adele, entah Christina Perry, tak benar-benar jelas. Suara angin malam yang menggoyang seng makin terdengar, sedang pikiranku makin berpendar.
***
“Ayah bangun, bangun ayah,” suara Salma sudah mengangkasa, rasanya belum pukul lima.
“Ayo dong, ayah. Ama kan mau sekolah”, tangannya menggoyang-goyang bahuku. Tak ada pilihan selain terjaga. Kupaksa membuka mata, meski kantuk rasanya masih menjalar hebat.
“Iya Ama, ayah bangun,”kukecup kening Salma. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Ama rindu bunda, ayah. Ama gak mau ke sekolah,” suara lirih merenggut senyum yang tadi menempel di wajahnya.
“Ama, bunda pasti hari ini sedang melihat Ama dan berdoa agar Ama bisa sekolah dengan baik. Ama mau bunda bahagia kan ?” Andai kau tahu anakku, ayahmu ini juga rapuh. Entah bagaimana caranya melalui hari-hari ini tanpa orang yang paling memahami ayah, bundamu itu. Kucoba tersenyum sembari mengelus-elus rambut keriting tipis Salma.
“Tapi ayah, siapa yang akan menemani Ama di sekolah ?” tatapan mata Salma seolah menguji ayahnya.
“Ama, kan ada ayah. Lagipula Ama kan tahu, dimanapun Ama berada, bunda pasti akan ikut menemani Ama. Bunda akan melihat Ama selalu, walau Ama tak bisa lihat bunda. Ama percaya, kan ?” kulempar senyum selebar mungkin. Meski nyeri di hati rasanya menguncapkan kalimat itu. Raiya, seharusnya dirimu ada bersama kami, agar Salma tak seresah ini.
“Iya ayah, tapi janji ya ayah gak kemana-mana selama Ama sekolah. Tungguin di depan pintu ya, yah,” senyum tipis Salma terpancar.
“Iya Ama, ayah janji,” kupeluk Salma.
“Oh iya, yah. Satu lagi,”
“Eits..sudah dulu bicaranya, sekarang Ama mandi, terus kita bikin sarapan, oke ?” tak kuberi kesempatan Salma berlama-lama dengan pikiran dan imajinasinya.
“Ah ayah, satu aja pertanyaan,” rengekan Salma membuatku tak berdaya.
“Oke, tapi satu pertanyaan saja,”
“Apakah Tuhan Sekolah, Ayah ?”, ah sudah kuduga. Pasti pertanyaan fantasi.
“Ama, jawabnya nanti aja. Sepulang sekolah,”
“Ayah, jawab dulu. Ama kan cuma takut kalau-kalau ada yang ganggu Ama atau Ama ketakutan, jadi Ama tetap bisa berdoa kalau Tuhan juga sekolah,” gadis kecilku ini memang terlalu akrab dengan imajinasi seputar Tuhan. Entah bagaimana ini bisa.
“Iya, Ama bisa berdoa kepada Tuhan kapanpun, termasuk di sekolah. Sekarang Ama mandi,” kututup percakapan, kugendong Ama menuju kamar mandi.
Seorang gadis mungil berkulit putih dengan rambut keriting tipis kemerahan kini berseragam merah putih, rapih. Sebelum berangkat dua potong roti tawar dengan selai kacang, sepotong apel dan segelas susu dilahap Salma.
Erat sekali Salma memeluk pinggangku selama di motor, SD Salma berada agak jauh dari rumah, tiga atau empat kilometer. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Salma, hanya tangannya yang berpegang erat.
Sekolah sudah begitu ramai, anak-anak seusia Salma masing-masing dengan orang tuanya. Untunglah ternyata banyak juga bapak-bapak yang mengantar anaknya. Tak terlalu merasa sendiri jadinya. Tapi seiring waktu, sepuluh, duapuluh menit berlalu, para bapak makin berkurang, tak lebih dari lima orang saja yang tersisa.
“Ayah, janji ya jangan pulang sebelum Ama pulang,” ada resah yang kutangkap dibalik suara Salma. Kutundukkan kepala, kupasati gadis kecil berambut keriting tipis dengan seragam merah putih. Ah, kau makin besar dengan seragam itu, anakku.
“Iya Ama, ayah pasti tunggu,” bisikku ke telinga Salma. Bola mata Salma bergerak-gerak cepat, sesekali tertuju ke arah anak-anak yang menggandeng erat masing-masing orang tuanya, namun sesekali matanya tertuju ke anak-anak yang berlari-lari di halaman sekolah, mereka kakak kelas Ama. Segaris senyum dikirim Salma ke seorang anak perempuan berambut lurus dengan pita-pita merah di rambutnya. Gadis kecil itu memegang semacam kertas berwarna warni di tangan kananya, tapi tangan kirinya menggenggam tangan kanan sang ibu. Gadis kecil itu membalas senyum Ama, mereka seperti langsung klik, cukup dengan saling berkirim senyum.
Tak lama, bel sekolah berbunyi nyaring, seorang guru mempersilahkan murid-murid baru untuk masuk kelas. Kelas bagi murid-murid baru ada di pojok dekat ruang guru, tak jauh jaraknya dari tempat kini kami berdiri. Tangan Salma makin erat menggenggam tanganku, seperti menyadari kalau ia akan segera berpisah dengan ayahnya.
“Ama, sekarang Ama masuk kelas dulu ya. Ayah akan tunggu di luar. Seperti janji Ama di rumah tadi, Ama mau bikin Bunda bahagia melihat Ama sekolah,” tak tahu kalimat apa yang harus kupilih melepas Ama masuk kelas. Justru sebuah kalimat yang merapuhkan hatiku yang meluncur. Ditambah tatapan mata Salma yang menusuk dalam, membuat wajah Raiya tiba-tiba membayang.
“Ayah janji gak pulang ya ?” pelan-pelang genggaman tangan Salma di tanganku mengendur. Ia melangkah ragu ke arah pintu. Matanya masih tertuju ke arahku, sedangkan kakinya melangkah menjauh. Kulempar senyum lebar, sembari mengacungkan jari ke langit. Salma pun membalas dengan hal yang sama. Kami seolah ingin berkata, ada bunda disana. Airmataku mungkin sudah meleleh, kalau saja suara anak-anak yang menangis karena takut berpisah dari orang tuanya sahut bersahut di dekatku.
Seorang ibu tampak sibuk membujuk anaknya untuk masuk kelas. Ibu yang lainnya memasang muka marah agar anaknya segera masuk kelas. Banyak pola dari orang-orang tua itu.
Kupandang Salma dari balik jendela kaca. Mejanya nomor tiga dari depan, persis selurus dengan meja ibu guru. Benar dugaanku, gadis kecil dengan pita warna merah di rambutnya menjadi teman sebangku Salma. Mereka tampak sudah akrab. Tenang hatiku, bidadari mungilku paling tidak sudah melewati satu tahap, mendapatkan seorang teman sebangku karena pilihan sendiri, bukan karena dijodohkan gurunya untuk sebangku.
Belum ada pelajaran yang berarti di dalam kelas, ibu guru dengan jilbab putih baru mengabsen nama-nama murid. Ada anak yang seperti tak mendengar ketika namanya dipanggil, ada anak yang tiba-tiba berlari ke arah ibunya yang berdiri di depan pintu, ada anak yang dengan pecaya diri mengangkat tangan, “Saya bu !” jawab anak-anak yang percaya diri itu. Salma Araiya, nama anakku dipanggil ibu guru. Hatiku berdegup kencang, menanti dengan cemas reaksi gadis mungilku. “Iya bu, Ama hadir,” suara Salma terdengar jelas walau suaranya tak keras. Ibu guru itu tersenyum ke arah Salma. Oh, bagus sekali anakku.
Usai absensi, ibu guru mulai memperkenalkan abjad, tapi dengan lagu-lagu. Suasana kelas mulai tenang, anak-anak mulai bisa dikendalikan oleh ibu gutu berjilbab putih itu. Mata Salma sesekali masih mencari-cari dimana gerangan aku, setelah mata kami beradu, senyum kecilnya terpancar.
Tak lebih dari tiga jam sekolah hari pertama itu, usai berdoa, orang tua-orang tua yang sedari tadi menyemut di depan pintu langsung menghambur masuk menemui anak masing-masing. Aku menunggu di luar saja, menanti Salma yang keluar. Tak lama, wajah Salma terlihat, ia nampak berseri. Melihat ke arahku, langsung ia berlari. Kupeluk bidadari mungilku itu, kukecup keningnya.
“Hebat Ama,” kususul kalimat itu dengan ciuman sekali lagi di kening Salma. Senyum tak berhenti dari wajah Salma.
“Ayah…ayah, Ama temannya sudah banyak, tadi Ama juga belajar abjad, ayah. Teruuus..truuus ehm apalagi ya tadi…lupa deh ayah,” banyak sekali sepertinya cerita yang ingin dibagi Salma.
“Iya, Ama hebat, tadi ayah lihat koq Ama jawab pertanyaan ibu guru,” pujiku sembari menurunkan Salma dari gendongan.
“Ayah, bunda pasti bahagia kan, yah ?” Ah, Raiya, istriku. Harusnya kau ada disini hari ini. Anak kita sudah mulai bersekolah. Kau pasti akan tersenyum-senyum bangga melihat anakmu menjawab pertanyaan gurunya, melihat bagaimana ia menemukan teman baru. Harusnya kau melihat betapa bahagianya Salma hari ini. Andai saja kau ada disini, sayangku. Luluh rasanya batinku, mengharap sesuatu yang pasti tidak akan terjadi.
“Iya sayang, bunda pasti senang dan bangga sama Ama,” kucoba tak menampakkan sedih.
***
Malam ketujuh di bulan kesepuluh, tiga bulan sudah Salma bersekolah. Selalu ada keceriaan tiap harinya. Ada cerita baru, ada hal baru dan makin banyak imajinasi barunya. Imajinas yang benar-benar tak bisa kubayangkan darimana datangnya. Bagaimana tidak, Salma berkeyakinan kalau Ibu gurunya adalah seorang putri salju, tapi kadang ia bilang ibu gurunya seperti hantu. Pernah pula ia berpikir kalau gedung sekolahnya dulu adalah lautan, bahkan ia pernah bertanya apakah Tuhan sepintar ibu gurunya. Ah, darimana gadis mungilku itu mewarisi imajinasinya.
Di hari-hari libur Salma masih tetap memainkan piano peninggalan bundanya. Video-video belajar piano selalu aku beli tiap bulan agar kemampuan Salma kian meningkat. Tujuh atau delapan lagu sudah ia kuasai, kagum aku melihat bakat gadis kecilku.
“Ayah, ayaaah, kesini. Lihatin gambar Ama, bagus gak ?” teriak Salma saat aku masih sibuk dengan tulisan yang tak kelar-kelar. Kesibukan sekolah Ama membuat waktu menulisku cukup tersita.
“Iya Ama, tunggu dulu ya,” aku masih mencoba berfokus dengan dua tiga paragraph terakhir dari esai yang kubuat.
“Ayaaah, buruuuan dong, ayah,” suara Salma sedikit meninggi.
“Amaaa, bisa gak sih tunggu, ayah masih banyak kerjaan,” suara tinggiku membuat Salma terdiam. Berlari ia menuju kamar, pintu kamar ia tutup rapat. Sedang aku masih terpaku dengan tulisan-tulisanku. Ini kan juga untuk kebaikan Salma, batinku.
Aku memang harus lebih produktif menulis, harus kejar setoran. Kebutuhan kami meningkat seiring kebutuhan sekolah Salma. Aku tak terlalu peduli apa yang terjadi dengan Salma di kamar. Tak apalah pikirku ia tidur duluan. Biar aku bisa punya waktu untuk menyelesaikan tulisan.
Setelah mengacak-acak arsip tulisan lama dan berbagai buku pustaka, akhirnya dua esai bisa kuselesaikan. Salma sudah tak terdengar sama sekali, lampu kamar masih menyala. Kurapikan meja kerjaku. Di ruang tengah buku dan perlengkapan menggambar Salma masih berserakan. Kurapikan dengan seadanya, kilat saja, karena mataku sudah terasa lelah dan kantuk menggelayuti kesadaran.
Ah, alangkah terkesimanya aku melihat apa yang ada di atas meja. Hasil gambar yang dibuat Salma masih tergeletak. Melihat apa yang digambar gadis kecilku membuat hati dan airmataku leleh. Sketsa seorang anak gadis yang sedang menggenggam tangan laki-laki dewasa dengan latar belakang sebuah sekolah dengan tiang bendera. Sketsa anak kecil itu ia beri warna merah di bagian bawah, sedang lelaki dewasa itu dengan topi di kepala. Oh, alangkah bodohnya aku memarahi Salma hanya karena ia ingin menunjukkan hasil gambarnya yang begitu apa adanya ini. Ia sedang mengambar dirinya dan ayahnya tersayang.
Sebuah lambang hati dengan tulisan Ama sayang ayah ia buat dengan warna biru muda, persis di pojok kanan kertas gambarnya. Menyesal aku telah meninggikan suara ke Salma, bidadari kecilku. Andai saja peristiwa siang di hari kedua puluh tiga di bulan keempat, lima tahun silam itu tak pernah terjadi, pastilah hidup kami tak sesulit ini. Raiya, Raiya mengapa kau pergi begitu cepat. Kami berdua lemah dan rapuh tanpamu, bunda.
Kupungut kertas gambar Salma, kumasukkan ke dalam tas merahnya. Kumatikan lampu rumah, di dalam kamar Salma sudah tertidur pulas. Di ujung matanya masih tersisa butir airmata. Sungguh ayah yang bodoh aku ini, membiarkan bidadari kecilku menangis, hanya karena ia ingin menunjukkan gambar bukti cintanya.
“Maafkan ayah, Ama,” kutarik selimut Salma, kukecup keningnya.
***
“Ayah bangun, bangun ayah,” lima pagi, Salma sudah bangun seperti biasa. Sebuah senyum terselip di wajahnya. Sisa tangis semalam masih nampak jelas di matanya. Kupeluk gadis kecilku, sembari kukecup keningnya.
“Maafkan Ayah semalam, Ama,” bisikku pelan.
“Ayah, jangan suka marah sama Ama ya, yah. Ama kan jadi sedih, Ama jadi pingin ikut bunda, kalau ayah marahin Ama,” kalimat Salma seperti membenamkanku dalam penyesalan. Tak akan kuulangi lagi.
“Iya Ama, ayah janji gak akan pernah marahin Ama lagi. Sekarang Ama mandi sana, kan mau sekolah. Biar Bunda bahagia di atas sana,” sembari kugendong Salma ke kamar mandi. Menggendong Salma ke kamar mandi sudah menjadi tradisi semenjak ia sekolah.
Sebutir pisang, telor mata sapi dan lima sendok nasi menjadi menu sarapan Salma. Bergegas ia menyambar tas merah.
“Ayah sudah masukin semua buku pelajaran Ama hari ini kan, yah ?” teriak Salma, sembari melirik sejenak isi tasnya.
“Iya, semua sudah di dalam termasuk hasil gambar Ama,” balasku sembari merapikan meja dan mencari dimana kunci motor.
“Terima kasih, ayah. Ayoo kita berangkat,” seru Salma yang sudah berdiri dengan baju seragam olahraganya. Hari Jum’at, Salma memang tak berseragam merah putih, melainkan kaos olahraga.
Tiga bulan sudah, tapi Salma belum mau ditinggal sendirian di sekolah. Ia mengancam tak akan mau sekolah kalau sampai aku tak menungguinya. Tak ada pilihan selain menurutinya.
Pernah terpikir untuk mengajak ibuku kesini, menemaniku merawat Salma, tapi pikir punya pikir, lebih baik tak usah. Akan semakin repot nantinya, sudah rumah kami yang cuma punya satu kamar, ditambah lagi akan lelah aku mendengarkan rencana ibuku yang berniat menjodokanku dengan anak gadis tetangga di Palembang sana. Ah, lebih baik aku urus sendiri saja Salma.
Menyaksikan Salma tumbuh, sungguh sebuah keajaiban. Tak ada hari yang kulewati tanpa Salma, lima tahun, ya sudah lima tahun kujalani ini. Ada saat-saat dimana aku protes pada Tuhan, mengapa kami harus menjalani ini. Ada kalanya ingin mencoba mencari pengganti Raiya, tapi entahlah. Raiya serasa baru pergi dua atau tiga hari yang lalu. Segala memori tentangnya masih terlalu dekat dan rapat.
***
Hujan sesekali sudah mengguyur kota. Kadang pagi hari kami berdua harus menerobos hujan ke sekolah. Tapi itulah Salma, ia tak mau libur barang seharipun. Katanya, bunda masih tidak suka kalau dia bolos sekolah. Tak ada pilihan, hujan deras sekalipun kami masih berangkat sekolah. Tiap hujan pagi, kubungkus sepatu Salma dengan kantong plastik hitam, kupakaikan jaketku dan kupasangkan pula kantong plastik hitam di kepala Salma. Salma pasti akan protes, “Ayah, aku jadi kayak monster,” katanya sembari membentangkan tangannya dan menggerak-gerakkan badannya yang dibalut jaket kebesaran dengan tutup kepala kantong plastik hitam. Geli juga melihat busana anak gadis kecilu itu. Tapi mau dibilang apa, daripada ia basah kuyup.
Adzan maghrib baru saja berlalu, seperti biasa usai shalat maghrib Salma mengaji, tidak kemana-mana, akulah guru mengajinya. Meski kemampuan mengajiku tak terlalu baik. Tapi kupikir, jauh lebih baik aku yang menjadi guru ngajinya. Tak terbayang melepasnya mengaji di langgar atau masjid dekat rumah. Apa kata kyai-kyai itu, kalau sampai pertanyaan-pertanyaan aneh Salma tentang Tuhan terlontar. Alamat disebut murtad aku sebagai orang tuanya.
“Ayah, ayah, aku mau tunjukin hasil gambarku. Sudah dinilai ibu guru,” Salma bergegas melepas mukena dan berlari mencari tas merahnya.
“Ini yah, bagus kan ?” aku pura-pura belum pernah melihat hasil gambarnya. Kupasat-pasatkan pandangan ke arah gambar itu.
“Bagus Ama, bagus banget, ini gambar apa sih ?” aku mencoba mencari tahu siapa sebenarnya yang ada dalam gambar Salma.
“Ini yang kecil pakai baju sekolah, aku, ayah. Nah ini yang pegang Ama, ayah. Terus ini gambar sekolah Ama. Terus ini aku tulis kalau aku sayang ayah,” meski sudah menduganya dan sudah pernah pula melihat gambar itu. Rasanya ada yang berbeda saat Salma sendiri yang menjelaskan gambar itu.
Andai saja istriku masih ada, pasti akan cemburu ia melihat gambar karya anaknya. Bundanya tak ada di gambar.
“Ibu guru kasih Ama nilai delapan, ayah. Hebat kan, hebat kan,” gaya membanggakan diri sendiri Salma mulai keluar. Ia acung-acungkan kertas gambar itu ke kiri dan ke kanan. Seolah ada puluhan orang yang mengelilingnya dan berdecak kagum dengan gambarnya.
“Iya, anak ayah memang hebat,” responku membuat mata Salma berbinar-binar.
“Tapi ayah, ibu guru bilang harusnya Ama juga gambar bunda. Ama bilang ke ibu guru, kalau bunda Ama sudah ngga ada. Ibu guru bilang walau bunda sudah tidak ada, tidak apa digambar juga,” demi apa yang diucapkan Salma, hatiku kembali rapuh. Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan selain airmata yang tiba-tiba tumpah.
“Ayah jangan sedih, ayah. Ama kan cuma cerita, ayah jangan sedih. Ntar Ama jadi ikut sedih juga.” Salma menggenggam tanganku. Aku hanya mengangguk kecil.
“Ayah, ayah. Boleh gak foto Bunda dipasang satu saja di rumah kita. Biar Ama hafal wajah bunda, jadi mudah menggambar bunda. Boleh ya, yah ?” Permintaan Salma mengguncang keyakinanku. Selama ini aku menyisihkan semua foto dan barang-barang yang bisa membuat aku mengenang Raiya, semua aku simpan. Kumasukkan dalam kotak kayu dan semua kutinggalkan di Palembang. Haruskah aku sebegitu egois hanya memikirkan diriku, sedang Salma sangat ingin mengenal bundanya lebih dekat walau cuma lewat selembar foto.
Ah, Salma Salma, mengapa tidak dari dulu kau ingatkan ayahmu ini, pikirku.
Bukankah pada saatnya masa lalu harus bisa kuterima sebagai bagian yang menyusun kedirianku. Masa lalu pula yang bisa membantuku memahami sebenarnya siapa diriku hari ini. Memaksa diri melupakan masa lalu kuyakini bukanlah jalan terbaik. Terima kasih Salma, bidadari kecilku.
************
Tulisan ini adalah episode lain dari kisah “Apakah Tuhan Bangun Pagi, Ayah?”, masih akan ada kisah-kisah lainnya tentang Salma.
Terima kasih telah membaca Berita Tentang Inspirasi: Apakah Tuhan Sekolah, Ayah? . Jika Anda ingin Copy Atau Ambil Artikel ini, Harap cantumkan Link Inspirasi: Apakah Tuhan Sekolah, Ayah? sebagai sumbernya. Tks..

